Kamis, 13 Maret 2014
MAKALAH TEORI AKUNTANSI-BIAYA / KONSEP BIAYA
BAB I
PENDAHULUAN
Pemahaman
terhadap konsep biaya memerlukan analisis yang hati-hati terhadap
karekteristik dari transaksi yang berkaitan dengan biaya. Ada elemen
laporan lain yang sifatnya hamper sama dengan biaya namun sebaiknya
tidak dimasukkan sebagai komponen biaya. Karekteristik biaya dapat
dipahami dengan mengenali batasan atau pengertian yang berkaian dengan
biaya.
Dengan
pemahaman seperti ini, transaksi yang berkaitan dengan biaya dapat
dengan mudah diidetifikasi sehinnga dapat disajikan dengan benar dalam
laporan keuangan. Dalam makalah ini akan membahas tentang cost yang
sebagai dasar pencatatan nilai dalam akuntansi pada tahap pembebanan.
Konsep dasar yang melandasi pembebanan cost adalah konsep upaya dan
hasil (efforts and accomplishment).
Atas
dasar konsep tersebut cost dapat dipisah menjadi dua yaitu: cost yang
masih menjadi potensi jasa (melekat pada aktiva), dan cost yang potensi
jasanya dianggap sudah habis dalam rangka menghasilkan pendapatan.
Pembebanan cost satu periode akuntansi di dasarkan pada kreteria
penentuan habisnya manfaat cost tersebut.
Pertama
, apakah manfaat cost habis dalam rangka penyerahan produk/jasa, atau
sering disebut dengan biaya (expenses). Kedua, apakah manfaat cost habis
karena sebab lain, yang digolongkan sebagai rugi (losses), dalam
makalah ini akan mengutip tentang masalah manfaat cost yang yang
kemungkinan bias disebut biaya dan juga bias disebut rugi, yang semua
itu tergantung pada masa manfaat.
1.2. Rumusan masalah
1. Apa pengertiaan biaya menurut IAI dan FASB ?
2. Bagaimanakah pengukuran dan pengakuan biaya ?
3. Bagaimanakah konsep perbandingan dalam biaya ?
4. Bagaimanakah hubungan sebab akibat dalam konsep perbandingan biaya ?
1.3. Tujuan
1. Mengetahui pengertian, pengukuran serta pengakuan biaya
2. Memahami hubungan konsep sebab akibat perbandingan biaya
BAB II
PEMBAHASAN
Pemahaman
terhadap konsep biaya memerlukan analisis yang hati-hati terhadap
karakteristik dari transaksi yang berkaitan dengan biaya. Ada elemen
laporan lain yang sifatnya hamper sama dengan biaya namun sebaiknya
tidak dimasukkan sebagai komponen biaya. Karakteristik biaya dapat
dipahami dengan mengenali batasan atau pengertian yang berkaitan dengan
biaya. Dengan pemahaman seperti ini, transaksi yang berkaitan dengan
biaya dapat dengan mudah diidentifikasi sehingga dapat disajikan dengan
benar dalam laporan keuangan.
2.1.1. Pengertian Biaya
Secara
umum, dapat dikatakan bahwa cost yang telah dikorbankan dalam rangka
menciptakan pendapatan disebut dengan biaya. FASB (1980) mendefinisikan
biaya sebagai berikut : “Biaya adalah aliran keluar (outflows) atau
pemakaian aktiva atau timbulnya hutang (atau kombinasi keduanya) selama
satu periode yang berasal dari penjualan atau produksi barang atau
penyerahan jasa atau pelaksanaan kegiatan yang lain yang merupakan
kegiatan utama suatu entitas” .
Sedang
IAI (1994) mendefinisikan biaya (beban) sebagai berikut :Beban
(expenses) adalah penurunan manfaat ekonomi selama suatu periode
akuntansi dalam bentuk arus keluar atau berkurangnya aktiva atau
terjadinya kewajiban yang mengakibatkan penurunan ekuitas yang tidak
menyangkut pembagian kepada penanam modal. Dari pengertian di atas dapat
dilihat bahwa biaya pada akhirnya merupakan aliran keluar aktiva
meskipun kadang-kadang harus melalui hutang lebih dahulu.
Sementara
Kam (1990) mendefinisikan biaya sebagai penurunan nilai aktiva atau
kenaikan hutang atau kenaikan ekuitas pemegang saham (stockholder’s
equity) sebagai akibat pemakian barang dan jasa oleh suatu unit usaha
untuk menghasilkan pendapatan pada periode berjalan.
Dari
definsi-definisi di atas, definisi yang dikemukakan IAI sejalan dengan
definisi yang diajukan oleh Kam. Keduanya mendefinisikan biaya dari
sudut pandang peristiwa moneter (penurunan aktiva, kenaikan
hutang/kenaikan ekuitas). Sebaliknya definisi yang dikemukakan FASB
cenderung agak berbeda dengan definisi yang dikemukakan Kam. Perbedaan
sudut pandang tersebut dapat dianalisis sebagai berikut :
Definisi
yang diajukan FASB tidak menunjukkan perbedaan yang jelas antara
peristiwa moneter dan peristiwa fisik. Perlu diketahui bahwa laba,
pendapatan, dan biaya saling berkaitan erat dengan nilai dari suatu
obyek ekonomi tertentu (jumlah rupiah memiliki sifat moneter, karena
dihasilkan dari peristiwa yang menyebabkan perubahan nilai obyek ekonomi
tersebut. Biaya menunjukkan peristiwa moneter yang berasal dari
pemakaian barang dan jasa (peristiwa fisik) dalam kegiatan operasional
perusahaan. Pemakaian aktiva harus menunjukkan adanya suatu cost yang
dinyatakan keluar (dikonsumsi) sebagai biaya.
Apabila
dilihat dari pandangan tradisional, definisi yang dikemukakan FASB
menunjukkan bahwa biaya hanya dihasilkan dari pemakaian aktiva untuk
tujuan menghasilkan pendapatan pada periode berjalan. Apabila prinsip
penandingan (matching) dilakukan dengan tepat, maka pembebanan biaya
harus ditunda lebih dahulu sebagai aktiva, selama pemanfaatan jasa masa
sekarang dapat membantu menghasilkan pendapatan pada priode yang akan
datang. FASB tidak menunjukkan kondisi tersebut.
Lepas dari perbedaan tersebut, yang jelas setiap cost yang dinyatakan
keluar dalam rangka menghasilkan pendapatan disebut dengan biaya. Baik
itu biaya yang berasal dari cost yaang langsung dibebankan sebagai biaya
tanpa dicatat lebih dahulu sebagai aktiva.
2.1.2. Biaya dan Rugi
Agar
pemakai laporan keuangan mendapat tambahan informasi yang lebih
lengkap, rugi dapat disertakan dalam laporan rugi laba sebagai penentu
besarnya laba komprehensif. Rugi sebaiknya disajikan terpisah dari
biaya.
Dari
definisi yang terdapat dalam Konsep Dasar Penyusunan dan Penyajian
Laporan Keuangan, IAI tidak memisahkan biaya dengan rugi ataupun tidak
langsung untuk memperoleh pendapatan disebut dengan biaya.
Pengukuran
dan pengakuan biaya memainkan peranan penting dalam penyusunan laporan
keuangan. Oleh karena itu pemahaman secara konseptual tentang pengukuran
dan pengakuan pendapatan tidak dapat diabaikan.
2.2.1. Pengukuran Biaya
Sejalan
dengan penilaian aktiva, biaya dapat diukur atas dasar jumlah rupiah
yang digunakan untuk penilaian aktiva dan hutang. Oleh karena itu
pengukuran biaya dapat didasarkan pada :
1. Cost Historis.
2. Cost pengganti/cost masukan terkini (Replacement Cost/Current Input Cost).
3. Setara kas (Cash Equivalent)
Meskipun ada berbagai dasar penilaian, dalam praktek yang paling banyak digunakan untuk mengukur biaya adalah cost histories.
2.2.2. Pengakuan Biaya
Pada dasarnya cost memiliki dua kedudukan penting, yaitu :
1. sebagai aktiva (potensi jasa)
2. sebagai beban pendapatan (biaya)
Proses
pembebanan cost padas dasarnya merupakan proses pemisahan cost. Oleh
karena itu, agar informasi yang dihasilkan akurat, bagain cost yang
telah diakui sebagai biaya pada periode berjalan dan bagian cost yang
akan dilaporkan sebagai aktiva (diakui sebagai biaya peda periode
berjalan dan bagian cost yang akan dilaporkan sebagai aktiva (diakui
sebagai biaya periode mendatang) harus dapat ditentukan dengan jelas.
Ada dua masalah yang muncul sehubungan dengan pemisahan cost tersebut, yaitu :
1. kriteria yang digunakan untuk menentukan cost tertentu yang harus dibebankan pada pendapatan periode berjalan.
2. kriteria yang digunakan untuk menentukan bahwa cost tertentu ditangguhkan pembebanannya.
Semua cost dapat ditangguhkan pembebanannya sebagai biaya apabila cost tersebut memenuhi criteria sebagai berikut :
·
memenuhi definisi aktiva (memiliki manfaat ekonomi masa mendatang,
dikendalikan perusahaan, berasal dari transaksi masa lalu).
·
Ada kemungkinan yang cukup bahwa manfaat ekonomi masa mendatang yang
melekat pada aktiva dapat dinikmati oleh entitas yang menguasai.
· Besarnya manfaat dapat diukur dengan cukup andal.
Dari
uraian diatas, secara umum dapat dirumuskan bahwa berdasarkan konsep
penandingan (matching), pengakuan pendapatan. Apabila pengakuan
pendapatan ditunda, maka pembebanan biaya juga ditunda. Untuk mengatasi
berbagai perbedaan pendapatan tentang pengakuan biaya, biasanya badan
berwenang mengeluarkan aturan tertentu untuk mengakui biaya.
2.3. Konsep Perbandingan
Konsep
penandingan adalah konsep yang dimaksudkan untuk mencari dasar hubungan
yang tepat dan rasional antara pendapatan dan biaya. Pendapatan
merupakan hasil yang dituju perusahaan, sementara cost yang dikeluarkan
untuk memperoleh pendapatan tersebut merupakan upaya yang dilakukan
perusahaan.
Penandingan
antara biaya dan pendapatan memerlukan dasar yang tepat. Upaya mencari
dasar penandingan yang tepat merupakan masalah yang sering dihadapi oleh
akuntan.
Paton dan Littleton mengungkapkan :
masalah
utama dalam menandingkan pendapatan dan biaya adalah mencari dasar
penandingan yang paling tepat antara pendapatan dengan biaya yang
berhubungan dengan pendapatan tersebut. Hubungan fisik yang dapat
dilihat sebenarnya dapat digunakan sebagai media untuk melacak dan
membebankannya. Meskipun demikian harus diakui bahwa dengan melihat
kondisi yang ada, dasar penandingan yang paling penting adalah kelayakan
(reasonable) bukannya pengukuran fisik.
Dalam
praktek ada tiga dasar penandingan yang umum digunakan untuk mencari
hubungan antara biaya pendapatan dalam satu periode tertentu. Dasar
penandingan tersebut adalah : hubungan sebab akibat (association of
causes and effects), alokasi sistematik dan rasional (systematic and
rational allocation) dn pembebanan segera (immediate recognition).
2.3.1. Hubungan Sebab Akibat.
Dasar
yang paling ideal untuk membandingkan biaya dengan pendapatan adalah
hubungan sebab akibat. Meskipun dasar ini sulit untuk dibuktikan, namun
atas dasar pengamatan yang dilakukan para akuntan menunjukkan bahwa
barang/jasa tertentu yang digunakan dalam proses produksi pada akhirnya
akan membantu dalam proses menghasilkan pendapatan selama periode
tertentu.
Komite
American Accounting Association juga menyarankan penggunaan hubungan
sebab akibat sebagai dasar penandingan. Mereka mengatakan : Cost harus
dihubungkan dengan pendapatan yang direalisasi selama periode tertentu
atas dasar korelasi positif yang dapat dilihat hubungannya antara cost
tersebut dengan pendapatan yang diakui.
Dari
pernyataan di atas dapat dirumuskan bahwa penandingan yang benar-benar
tepat dapat dilakukan apabila terdapat hubungan yang rasional antara
pendapatan dan biaya. Oleh karena itu pengakuan biaya harus dihubungkan
dengan pendapatan dan dilaporkan dalam periode yang sama dengan periode
pengakuan pendapatan.
Ada
beberapa masalah teknis yang timbul apabila penandingan langsung atas
dasar produk yang digunakan sebagai dasar hubungan sebab akibat. Masalah
tersebut adalah :
· pemakaian barang dan jasa yang bagaimana yang dapat diidentifikasi dengan produk ?
·
apabila biaya tidak menambah nilai produk tertentu, kapan biaya
tersebut dapat dihubungkan secara langsung dengan pendapatan di masa
yang akan datang ?
· Bagaimana biaya tersebut dapat dilaporkan dengan tepat sesuai dengan pendapatan yang diperoleh ?
· kapan biaya yang terjadi setelah penjualan dapat dicatat dan dilaporkan ?
Berikut ini akan dibahas ketiga masalah tersebut dan alternatif pemecahannya :
1. Identifikasi Cost Produk
Sesuai
dengan konsep penandingan, semua cost produksi harus dibebankan pada
produk yang bersangkutan. Cost produk dapat dibagi menjadi dua :
· cost produk yang melekat pada produk terjual dan nantinya akan dibebankan sebagai biaya.
·
cost yang melekat pada produk yang belum terjual (dilaporkan sebagai
persediaan) dan dicatat sebagai aktiva sampai produk tersebut terjual.
Beberapa
cost produk dapat langsung dihubungkan dengan produk tertentu,
sementara cost yang lain hanya dapat dihubungkan dengan kegiatan
produksi dan dialokasikan pada produk berdasarkan aturan ataun prosedur
tertentu. Disinilah pentingnya melakukan identifikasi untuk menentukan
cost produk langsung (direct product cost) dan cost produk tidak
langsung (indirect product cost). Cost produk langsung adalah cost
barang dan jasa yang digunakan untuk memproduksi prodk tertentu dan yang
secara langsung dapat diidentifikasi atau ditelusur ke produk yang
dihasilkan. Cost bahan baku dan tenaga kerja langsung merupakan cost
produk langsung karena terjadinya atau manfaat cost tersebut dapat
diidentifikasi pada produk tertentu.
Cost
produk tidak langsung adalah cost barang dan jasa yang digunakan dalam
proses produksi, yang tidak dapat di identifikasi pada produk yang
dihasilkan. Cost overhead pabrik adalah contoh cost produk tidak
langsung. Meskipun cost inisifatnya tidak langsung, namun cost tersebut
tetap dibebankan pada produk atas dasar aturan atau metode tertentu.
Yang menjadi masalah sekarang, di antara cost produk tersebut yang
manakah yangdapat ditandingkan dengan pendapatan? Akuntan banyak tidak
sependapat untuk merteembebankan semua cost produksi individual pada
produk tertentu. Perbadaan ini muncul karena adanya dua konsep yang
berbeda dalam menentukan elemen cost produk, yaitu konsep full costing,
dan konsep direct costing.
Menurut
konsep full costing, cost yang dianggap sebagai biaya adalah semua cost
produk baik langsung maupun tidak langsung yang berkaitan dengan produk
yang terjual. Semetara menurut menurut konsep direct cisting, hanya
cost produk variabel yang dianggap sebagai biaya atas produk terjual.
Dengan demikian, cost produksi non variabel akan dibebankan sebagai
biaya periode. Masalah lain yang muncul adalah cost kapasitas menganggur
dan cost produk rusak yang bersifat abnormal. Jenis cost tersebut
umumnya dianggap sebagai rugi (losses) atau langsung dibebankan sebagai
biaya. Perlakuan inipun masih menimbulkan masalah, apakah cost tersebut
sebaiknya diperlakukan sebagai rugi (losses) atau biaya.
Penentuan
cost atas produk rusak sebagai rugi (losses) atau biaya sangat
tergantung pada sifat dari kerusakan tersebut. Apabila kerusakan terjadi
karena kejadian normal atau atau sering terjadi, maka cost tersebut
diperlakukan sebagai biaya. Sebaliknya, apabila kerusakan terjadi karena
hal yang tidak biasa( tidak rutin), maka cost produk rusak tersebut
diperlakukan sebagai rugi (losses).
2. Biaya Yang Langsung Berhubungan dengan Pendapatan Masa Mendatang, Tetapi Tidak Masuk dalam Cost Produksi.
Pada
beberapa kasus, cost yang dapat dihubungkan dengan pendapatan masa
mendatang tidak dapat dibebankan secara langsung dengan prodruk
tertentu. Hal ini disebabkan cost tersebut tidak menunjukkan nilai
tambah pada produk yang bersangkutan. Contoh dari kasus ini adalah biaya
penjualan dan administrasi. Biaya penjualan dan administrasi tidak
harus ditandingkan dengan pendapatan di masa mendatang jika tidak ada
jaminan yang rasional untuk menghubungkan biaya tersebut dengan
pendapatan di masa mendatang. Meskipun jenis biaya tersebut tidak secara
langsung menghasilkan pendapatan karena secara teknis sulit mencari
hubungan sebab akibatnya, namun biaya tersebut harus tetap dibebankan
sebagai biaya.
Tidak
diperolehnya pendapatan atau tidak adanya kemungkinan rugi pada periode
berjalan, bukan merupakan alasan untuk menunda pembebanan biaya.
Alasannya adalah apabila suatu cost dan jasa tidak memberikan manfaat
pada periode sekarang dan juga bukan merupakan rugi, maka cost tersebut
tentu akan memberikan manfaat masa mendatang. Oleh karena itu, cost
tersebut harus dialokasikan pada periode mendatnag agar dapat dilakukan
penandingan antara biaya dengan pendapatan. Contohnya, cost pendirian
perusahaan tidak dapat dihubungkan dengan produk karena biasanya tidak
ada produk yang dihasilkan pada cost tersebut dikeluarkan. Meskipun
demikian, cost tersebut dapat dihubungkan dengan pendapatan masa
mendatang dan biasanya dikapitalisasi. Jadi cost tersebut sering
diperlakukan sebagai aktiva tidak berwujud.
Namun
demikian, apabila tidak ada hubungan khusus antara pendapatan dan
biaya, maka proses penandingan tidak dapat dilakukan. Konsekuensinya,
tindakan menangguhkan pembebanan cost tersebut pada akhirnya akan
menyebabkan perataan laba dan dan tidak menambah manfaat informasi yang
dihasilkan. Contoh lainyang relevan dengan kasus diatas adalah cost
penelitian dan pengembangan. Meskipun pengeluaran untuk penelitian dan
pengembangan mungkin memiliki manfaat dalam beberapa periode, namun
tidak ada metode atau cara yang relevan dan bermanfaat untuk menerapkan
konsep penandingannya.
3. Biaya Yang Berhubungan Dengan Pendapatan Yang Terjadi Setelah Pendapatan Diakui.
Umumnya
biaya yang berhubungan dengan pendapatan akan terjadi setelah biaya
yang akan timbul setelah penjualan. Apabila cost kegiatan tertentu dapat
ditaksir secara layak dan cukup pasti, maka cost tersebut dapat diakui
sebagai biaya pada periode pengakuan pendapatan.
Meskipun
dapat menimbulkan masalah, alokasi sistematis tetap dapat digunakan
sebagai dasar penandingan. Ada beberapa alasan yang mendukung pemakaian
alokasi sistematis dan rasional.
· Banyak cost periodic yang berhubungan secara tidak langsung dengan pendapatan periode berjalan.
·
Pada bebrapa kasus sulit mencari hubungan langsung antara cost tertentu
dengan pendapatan. Apabila cost dikeluarkan untuk kegiatan operasional
perusahaan, maka cost tersebut harus diakui sebagai biaya pada periode
terjadinya.
·
Apabila manfaat masa mendatang tidak dapat diukur dengan cukup pasti
atau cost yang dikeluarkan tidak memiliki hubungan dengan pendapatan di
masa mendatang, maka tidak ada alas an untuk menunda pembebanan cot
sebgai biaya pada periode terjadinya.
·
Apabila biaya bersifat rutin (regular) dan terjadi berulang-ulang maka
pembebanan langsung secara material tidak akan berpengaruh terhadap laba
bersih, meskipun penandingan yang tepat tidak dapat dicapai.
BAB III
KESIMPULAN & PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Dari
pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa definisi yang dikemukaka IAI
sejalan dengan definisi yang di ajukan Kam. Keduanaya mendefinisikan
biaya dari sudut pandang peristiwa moneter (penurunan aktiva, kenaikan
hutang/kenaikan ekuitas). Sebaliknya definisi yang dikemukakan FASB
cenderung agak berbeda dengan definisi yang dikemukakan Kam.
3.2. Penutup
Demikianlah
yang dapat penulis sampaikan pada makalah akuntansi keungan menengah
dalam materi pendapatan.semoga bermanfaat bagi para pembaca yang membaca
makalah yang kami buat ini, mohon maaf apabila ada salah kata yang
disengaja maupun tidak disengaja. Terimakasih
DAFTAR REFERENSI
2. FASB,1980”element of financial statement”,statement of financial accounting concepts no. 6, Stamford,Connecticut:FASB ( http://muhaimin-mz.blogspot.com/2011/10/biaya-expenses.html ) di akses pada tanggal 7 desember 2013
3. Herman, konsep biaya http://cafe-ekonomi.blogspot.com.html di akses pada tanggal 7 desember 2013
MAKALAH AKUNTANSI BIAYA II
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Setiap bidang kegiatan produksi pasti mempunyai tujuan yang ingin dicapai oleh perusahaan tersebut. Umumnya tujuan utama suatu perusahaan adalah mendapatkan laba atau keuntungan yang besar. Setiap kegiatan produksi membutuhkan biaya produksi karena biaya produksi ditujukan untuk memperoleh nilai ekonomis produk yang lebih tinggi. Oleh karena itu, setiap perusahaan membutuhkan biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik.
Biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik sangat penting karena merupakan salah satu teknik untuk menerapkan kebijakan-kebijakan dalam pembebanan oleh suatu produk. Merupakan bagian dari proses perencanaan untuk menentukan tindakan bagi kegiatan produksi dimasa yang akan datang. Memberikan informasi untuk menentukan tindakan bagi kegiatan produksi. Memberikan gambaran bagi suatu perusahaan, disamping itu juga perusahaan membutuhkan analisis selisish.
1.2 Batasan Masalah
Biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik banyak dipergunakan perusahaan untuk pembuatan produk sehingga banyak ketentuan yang harus dilakukan didalam pelaksanaan. Untuk itu Penulis hanya membatasi penulisan ini pada elemen – elemen biaya, biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik.
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui elemen – elemen biaya, biaya bahan baku, biaya tenega kerja langsung, biaya overhead pabrik, biaya standar dan sesungguhnya secara garis besar.
1.4 Metode Penelitian
Metode yang digunakan penulis dalam mencari atau mengumpulkan data ini menggunakan metode kepustakaan. Dimana metode ini pengumpulan data dengan cara mengkaji dan menelaah data dari buku.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Biaya
Berikut ini beberapa pengertian dari biaya diantaranya adalah sebagai berikut :
Biaya adalah pengorbanan sumber ekonomi, yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi atau yang akan kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu.
Biaya adalah pemakaian barang – barang yang dinilai untuk pencapaian hasil (output) tertentu.
Biaya adalah pengeluaran – pengeluaran atau nilai pengorbanan untuk memperoleh barang atau jasa yang berguna untuk masa yang akan datang atau mempunyai manfaat yang meneliti satu periode akuntansi tahunan.
Dari beberapa pengertian biaya diatas dapat didefinisikan bahwa biaya merupakan pengeluaran atau pengorbanan sumber ekonomi untuk memperoleh barang atau jasa yang dinilai dengan uang yang berguna untuk masa yang akan datang.
2.2 Elemen – Elemen Biaya
a. Biaya Produksi
Merupakan biaya yang terjadi untuk mengolah bahan baku menjadi produk jadi yang siap untuk dijual. Contohnya biaya depresiasi mesin dan ekuipmen, biaya bahan baku, biaya bahan penolong, biaya gaji karyawan yang bekerja dalam bagian – bagian, baik yang langsung maupun yang tidak langsung yang berhubungan dengan proses produksi.
b. Biaya Pemasaran
Merupakan biaya – biaya yang terjadi untuk melaksanakan kegiatan pemasaran produk. Contohnya adalah biaya iklan, biaya promosi, biaya angkutan dari gudang perusahaan kegudang pembeli, gaji karyawan bagian – bagian yang melaksanakan kegiatan pemasaran, biaya contoh (sampel).
c. Biaya Administrasi dan Umum
Merupakan biaya – biaya untuk mengkoordinasi kegiatan produksi dan pemasaran produk. Contoh biaya ini adalah biaya gaji karyawan bagian keuangan, akuntansi, personalia dan bagian hubungan masyarakat, biaya pemeriksaan akuntansi, biaya fotocopy.
d. Biaya Langsung (Direct cost)
Biaya yang terjadi yang penyebab satu – satunya adalah karena adanya sesuatu yang dibiayai. Jika sesuatu yang dibiayai tersebut tidak ada, maka biaya langsung ini tidak akan terjadi.
Dengan demikian biaya langsung akan mudah diidentifikasikan dengan sesuatu yang dibiayai.
e. Biaya Tidak Langsung (Inderect cost)
Biaya yang terjadi tidak hanya disebabkan oleh sesuatu yang dibiayai. Biaya tidak langsung dalam hubungannya dengan produk disebut dengan istilah biaya produksi tidak langsung atau biaya overhead pabrik (factory overhead costs). Biaya ini tidak mudah diidentifikasikan dengan produk tertentu.
2.3 Biaya Bahan Baku
Suatu perusahaan didalam pembuatan suatu produk dibutuhkan biaya bahan baku. Biaya bahan baku, biaya ini timbul karena pemakaian bahan. Biaya bahan baku merupakan harga pokok bahan yang dipakai dalam produksi untuk membuat barang didalam suatu perusahaan.
Biaya bahan baku adalah merupakan bagian dari harga pokok barang jadi yang akan dibuat.
2.4 Biaya Tenaga Kerja
Perusahaan didalam memproduksi dibutuhkan tenaga kerja dimana tenaga kerja tersebut akan dipergunakan didalam proses pembuatan produk perusahaan. Perusahaan didalam mempergunakan tenaga kerja manusia membutuhkan biaya tenaga kerja. Dimana Biaya tenaga kerja tersebut adalah harga yang dibebankan untuk penggunaan tenaga kerja manusia tersebut.
2.5 Biaya Tenaga Kerja Langsung
Biaya tenaga kerja langsung, biaya ini timbul karena pemakaian tenaga kerja yang dipergunakan untuk mengolah bahan menjadi barang jadi.
Biaya tenaga kerja langsung merupakan gaji dan upah yang diberikan tenaga kerja yang terlibat langsung dalam pengolahan barang.
Sedangkan biaya tenaga kerja tidak langsung merupakan tenaga kerja yang tidak langsung terlibat dalam pengelolaan barang.
2.6 Penggolongan Biaya Tenaga Kerja
Biaya tenaga kerja dalam suatu perusahaan dapat digolongkan menjadi beberapa macam, antara lain sebagai berikut :
1. Biaya Produksi ( Terdiri dari Biaya Tenaga Kerja Langsung dan Biaya Tenaga Kerja Tidak Langsung).
Biaya Produksi adalah semua upah buruh dan insentip dalam rangka memproduksi suatu produk
2. Biaya Komersial ( terdiri dari Gaji direksi dan gaji karyawan kantor).
Biaya Komersial adalah semua pembayaran gaji yang dibayarkan kepada para pegawai (tetap/tidak tetap) guna mempertahankan eksistensi operasional perusahaan.
2.7 Biaya Overhead Pabrik
Biaya Overhead Pabrik adalah Semua biaya – biaya produksi selain biaya bahan langsung dan biaya tenaga kerja langsung. Biaya bahan ini terdiri dari biaya bahan tak langsung , biaya tenaga kerja tak langsung dan semua biaya – biaya yang tidak dapat secara langsung dibebankan kepada produk ataupun job.
Item biaya overhead pabrik sangat banyak, sehingga apabila ditinjau dari perilaku biaya, dapat disusun klasifikasi sebagai biaya tetap dan biaya variabel. Meskipun pada dasarnya terdapat biaya semi variabel yang mengandung kriterium sebagai biaya variabel maupun tetap. Namun untuk memudahkan perhitungan biaya dan pengendalian biaya, maka klasifikasi biaya semi variabel tersebut dipecah lagi menjadi biaya tetap dan biaya variabel.
Pemisahan biaya ini sebenarnya mengandung kelemahan, mengingat tidak ada metode yang dianggap tetap dalam pemisahan biaya semi variabel tersebut.
2.8 Biaya Standar dan Biaya Sesungguhnya
Pengendalian pada biaya merupakan patokan atau standar sebagai dasar uang dipakai untuk tolak ukur pengendalian. Standar ini sangat dibutuhkan oleh manajemen untuk membantunya dalam menjalankan operasi perusahaan.
Biaya standar adalah biaya yang ditentukan dimuka, yang merupakan jumlah biaya yang seharusnya dikeluarkan untuk membuat satu satuan produk atau untuk membiayai kegiatan tertentu, dibawah asumsi kondisi ekonomi, efisiensi dan faktor – faktor lain tertentu.
Biaya standar adalah alat yang dipakai untuk mengukur dan menilai prestasi pelaksanaan yang harus ditentukan dengan teliti dan ilmiah melalui penelitian teknis, penilaian prestasi, penelitian laboratorium penelitian gerak dan penelitian waktu.
(The National Association of Accountants / NAA) yang dikutip oleh Cashin (1988) mendefinisikan Biaya sesungguhnya adalah biaya yang diakumulasi selama proses produksi dengan menggunakan harga pokok historis yang biasanya merupakan lawan dari biaya yang ditetapkan sebelum proses produksi yang ditujukan untuk mengetahui besarnya biaya yang dikeluarkan perusahaan.
Biaya standar tidaklah menggantikan biaya sesungguhnya dalam suatu sistem akuntansi biaya melainkan saling melengkapi biasanya penggunaan biaya standar dipergunakan untuk:
a. Menetapkan anggaran
b. Mengendalikan biaya mengarahkan dan mengukur efesiensi
c. Menyederhanakan prosedur pembiayaan dan menyajikan laporan biaya
dengan cepat.
d. Membebankan biaya yang telah dikeluarkan ke bahan baku, barang dalam
proses dan barang jadi yang ada pada persediaan perusahaan.
e. Menutupkan dasar perhitungan untuk pelelangan, kontrak dan harga jual.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Di dalam proses produksi agar bisa berjalan sesuai yang diingikan perusahaan, maka perusahaan dalam hal ini harus memperhatikan apa saja yang dibutuhkan seperti elemen – elemen biaya, biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overead pabrik didalam pelaksanaannya.
Berikut ini Elemen – Elemen Biaya adalah sebagai berikut :
a. Biaya Produksi
b. Biaya Pemasaran
c. Biaya Administrasi dan Umum
d. Biaya Langsung (Direct cost)
e. Biaya Tidak Langsung (Inderect cost)
Biaya Bahan Baku didalam suatu perusahaan merupakan harga pokok bahan yang dipakai dalam produksi untuk membuat barang didalam suatu perusahaan.
Biaya tenaga kerja langsung, biaya ini timbul karena pemakaian tenaga kerja yang dipergunakan untuk mengolah bahan menjadi barang jadi.
Biaya Overhead Pabrik adalah Semua biaya – biaya produksi selain biaya bahan langsung dan biaya tenaga kerja langsung. Biaya bahan ini terdiri dari biaya bahan tak langsung , biaya tenaga kerja tak langsung dan semua biaya – biaya yang tidak dapat secara langsung dibebankan kepada produk ataupun job.
Pengendalian pada biaya merupakan patokan atau standar sebagai dasar uang dipakai untuk tolak ukur pengendalian. Sedangkan Biaya sesungguhnya merupakan biaya yang diakumulasi selama proses produksi dengan menggunakan harga pokok historis yang biasanya merupakan lawan dari biaya yang ditetapkan sebelum proses produksi yang ditujukan untuk mengetahui besarnya biaya yang dikeluarkan perusahaan.
DAFTAR PUSTAKA
1. Mulyadi, 1993, Akuntansi Biaya, Edisi ketiga, Yogyakarta: BPFE Universitas Gunadarma.
2. Firdaus A. Dunia, 1994, Akuntansi Biaya, Buku Satu Lembaga Penerbit Fakultas Ekonom Universitas Indonesia, Jakarta.
3. Schweitzer dan Hans-Ulrich Kueper, Akuntansi Biaya, Alih Bahasa oleh Burhan Napitupulu dan Teddy Pawitro, Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta, 1991.
4. Tresno Lesmono, 1998, Akuntansi Biaya, Yogyakarta: Akademia Akuntansi YKPN
5. Ibnu Subiyanto dan Bambang Suripto, 1993, Akuntansi Biaya, Seri Diktat Kuliah, Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma, Jakarta.
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Setiap bidang kegiatan produksi pasti mempunyai tujuan yang ingin dicapai oleh perusahaan tersebut. Umumnya tujuan utama suatu perusahaan adalah mendapatkan laba atau keuntungan yang besar. Setiap kegiatan produksi membutuhkan biaya produksi karena biaya produksi ditujukan untuk memperoleh nilai ekonomis produk yang lebih tinggi. Oleh karena itu, setiap perusahaan membutuhkan biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik.
Biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik sangat penting karena merupakan salah satu teknik untuk menerapkan kebijakan-kebijakan dalam pembebanan oleh suatu produk. Merupakan bagian dari proses perencanaan untuk menentukan tindakan bagi kegiatan produksi dimasa yang akan datang. Memberikan informasi untuk menentukan tindakan bagi kegiatan produksi. Memberikan gambaran bagi suatu perusahaan, disamping itu juga perusahaan membutuhkan analisis selisish.
1.2 Batasan Masalah
Biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik banyak dipergunakan perusahaan untuk pembuatan produk sehingga banyak ketentuan yang harus dilakukan didalam pelaksanaan. Untuk itu Penulis hanya membatasi penulisan ini pada elemen – elemen biaya, biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik.
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui elemen – elemen biaya, biaya bahan baku, biaya tenega kerja langsung, biaya overhead pabrik, biaya standar dan sesungguhnya secara garis besar.
1.4 Metode Penelitian
Metode yang digunakan penulis dalam mencari atau mengumpulkan data ini menggunakan metode kepustakaan. Dimana metode ini pengumpulan data dengan cara mengkaji dan menelaah data dari buku.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Biaya
Berikut ini beberapa pengertian dari biaya diantaranya adalah sebagai berikut :
Biaya adalah pengorbanan sumber ekonomi, yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi atau yang akan kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu.
Biaya adalah pemakaian barang – barang yang dinilai untuk pencapaian hasil (output) tertentu.
Biaya adalah pengeluaran – pengeluaran atau nilai pengorbanan untuk memperoleh barang atau jasa yang berguna untuk masa yang akan datang atau mempunyai manfaat yang meneliti satu periode akuntansi tahunan.
Dari beberapa pengertian biaya diatas dapat didefinisikan bahwa biaya merupakan pengeluaran atau pengorbanan sumber ekonomi untuk memperoleh barang atau jasa yang dinilai dengan uang yang berguna untuk masa yang akan datang.
2.2 Elemen – Elemen Biaya
a. Biaya Produksi
Merupakan biaya yang terjadi untuk mengolah bahan baku menjadi produk jadi yang siap untuk dijual. Contohnya biaya depresiasi mesin dan ekuipmen, biaya bahan baku, biaya bahan penolong, biaya gaji karyawan yang bekerja dalam bagian – bagian, baik yang langsung maupun yang tidak langsung yang berhubungan dengan proses produksi.
b. Biaya Pemasaran
Merupakan biaya – biaya yang terjadi untuk melaksanakan kegiatan pemasaran produk. Contohnya adalah biaya iklan, biaya promosi, biaya angkutan dari gudang perusahaan kegudang pembeli, gaji karyawan bagian – bagian yang melaksanakan kegiatan pemasaran, biaya contoh (sampel).
c. Biaya Administrasi dan Umum
Merupakan biaya – biaya untuk mengkoordinasi kegiatan produksi dan pemasaran produk. Contoh biaya ini adalah biaya gaji karyawan bagian keuangan, akuntansi, personalia dan bagian hubungan masyarakat, biaya pemeriksaan akuntansi, biaya fotocopy.
d. Biaya Langsung (Direct cost)
Biaya yang terjadi yang penyebab satu – satunya adalah karena adanya sesuatu yang dibiayai. Jika sesuatu yang dibiayai tersebut tidak ada, maka biaya langsung ini tidak akan terjadi.
Dengan demikian biaya langsung akan mudah diidentifikasikan dengan sesuatu yang dibiayai.
e. Biaya Tidak Langsung (Inderect cost)
Biaya yang terjadi tidak hanya disebabkan oleh sesuatu yang dibiayai. Biaya tidak langsung dalam hubungannya dengan produk disebut dengan istilah biaya produksi tidak langsung atau biaya overhead pabrik (factory overhead costs). Biaya ini tidak mudah diidentifikasikan dengan produk tertentu.
2.3 Biaya Bahan Baku
Suatu perusahaan didalam pembuatan suatu produk dibutuhkan biaya bahan baku. Biaya bahan baku, biaya ini timbul karena pemakaian bahan. Biaya bahan baku merupakan harga pokok bahan yang dipakai dalam produksi untuk membuat barang didalam suatu perusahaan.
Biaya bahan baku adalah merupakan bagian dari harga pokok barang jadi yang akan dibuat.
2.4 Biaya Tenaga Kerja
Perusahaan didalam memproduksi dibutuhkan tenaga kerja dimana tenaga kerja tersebut akan dipergunakan didalam proses pembuatan produk perusahaan. Perusahaan didalam mempergunakan tenaga kerja manusia membutuhkan biaya tenaga kerja. Dimana Biaya tenaga kerja tersebut adalah harga yang dibebankan untuk penggunaan tenaga kerja manusia tersebut.
2.5 Biaya Tenaga Kerja Langsung
Biaya tenaga kerja langsung, biaya ini timbul karena pemakaian tenaga kerja yang dipergunakan untuk mengolah bahan menjadi barang jadi.
Biaya tenaga kerja langsung merupakan gaji dan upah yang diberikan tenaga kerja yang terlibat langsung dalam pengolahan barang.
Sedangkan biaya tenaga kerja tidak langsung merupakan tenaga kerja yang tidak langsung terlibat dalam pengelolaan barang.
2.6 Penggolongan Biaya Tenaga Kerja
Biaya tenaga kerja dalam suatu perusahaan dapat digolongkan menjadi beberapa macam, antara lain sebagai berikut :
1. Biaya Produksi ( Terdiri dari Biaya Tenaga Kerja Langsung dan Biaya Tenaga Kerja Tidak Langsung).
Biaya Produksi adalah semua upah buruh dan insentip dalam rangka memproduksi suatu produk
2. Biaya Komersial ( terdiri dari Gaji direksi dan gaji karyawan kantor).
Biaya Komersial adalah semua pembayaran gaji yang dibayarkan kepada para pegawai (tetap/tidak tetap) guna mempertahankan eksistensi operasional perusahaan.
2.7 Biaya Overhead Pabrik
Biaya Overhead Pabrik adalah Semua biaya – biaya produksi selain biaya bahan langsung dan biaya tenaga kerja langsung. Biaya bahan ini terdiri dari biaya bahan tak langsung , biaya tenaga kerja tak langsung dan semua biaya – biaya yang tidak dapat secara langsung dibebankan kepada produk ataupun job.
Item biaya overhead pabrik sangat banyak, sehingga apabila ditinjau dari perilaku biaya, dapat disusun klasifikasi sebagai biaya tetap dan biaya variabel. Meskipun pada dasarnya terdapat biaya semi variabel yang mengandung kriterium sebagai biaya variabel maupun tetap. Namun untuk memudahkan perhitungan biaya dan pengendalian biaya, maka klasifikasi biaya semi variabel tersebut dipecah lagi menjadi biaya tetap dan biaya variabel.
Pemisahan biaya ini sebenarnya mengandung kelemahan, mengingat tidak ada metode yang dianggap tetap dalam pemisahan biaya semi variabel tersebut.
2.8 Biaya Standar dan Biaya Sesungguhnya
Pengendalian pada biaya merupakan patokan atau standar sebagai dasar uang dipakai untuk tolak ukur pengendalian. Standar ini sangat dibutuhkan oleh manajemen untuk membantunya dalam menjalankan operasi perusahaan.
Biaya standar adalah biaya yang ditentukan dimuka, yang merupakan jumlah biaya yang seharusnya dikeluarkan untuk membuat satu satuan produk atau untuk membiayai kegiatan tertentu, dibawah asumsi kondisi ekonomi, efisiensi dan faktor – faktor lain tertentu.
Biaya standar adalah alat yang dipakai untuk mengukur dan menilai prestasi pelaksanaan yang harus ditentukan dengan teliti dan ilmiah melalui penelitian teknis, penilaian prestasi, penelitian laboratorium penelitian gerak dan penelitian waktu.
(The National Association of Accountants / NAA) yang dikutip oleh Cashin (1988) mendefinisikan Biaya sesungguhnya adalah biaya yang diakumulasi selama proses produksi dengan menggunakan harga pokok historis yang biasanya merupakan lawan dari biaya yang ditetapkan sebelum proses produksi yang ditujukan untuk mengetahui besarnya biaya yang dikeluarkan perusahaan.
Biaya standar tidaklah menggantikan biaya sesungguhnya dalam suatu sistem akuntansi biaya melainkan saling melengkapi biasanya penggunaan biaya standar dipergunakan untuk:
a. Menetapkan anggaran
b. Mengendalikan biaya mengarahkan dan mengukur efesiensi
c. Menyederhanakan prosedur pembiayaan dan menyajikan laporan biaya
dengan cepat.
d. Membebankan biaya yang telah dikeluarkan ke bahan baku, barang dalam
proses dan barang jadi yang ada pada persediaan perusahaan.
e. Menutupkan dasar perhitungan untuk pelelangan, kontrak dan harga jual.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Di dalam proses produksi agar bisa berjalan sesuai yang diingikan perusahaan, maka perusahaan dalam hal ini harus memperhatikan apa saja yang dibutuhkan seperti elemen – elemen biaya, biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overead pabrik didalam pelaksanaannya.
Berikut ini Elemen – Elemen Biaya adalah sebagai berikut :
a. Biaya Produksi
b. Biaya Pemasaran
c. Biaya Administrasi dan Umum
d. Biaya Langsung (Direct cost)
e. Biaya Tidak Langsung (Inderect cost)
Biaya Bahan Baku didalam suatu perusahaan merupakan harga pokok bahan yang dipakai dalam produksi untuk membuat barang didalam suatu perusahaan.
Biaya tenaga kerja langsung, biaya ini timbul karena pemakaian tenaga kerja yang dipergunakan untuk mengolah bahan menjadi barang jadi.
Biaya Overhead Pabrik adalah Semua biaya – biaya produksi selain biaya bahan langsung dan biaya tenaga kerja langsung. Biaya bahan ini terdiri dari biaya bahan tak langsung , biaya tenaga kerja tak langsung dan semua biaya – biaya yang tidak dapat secara langsung dibebankan kepada produk ataupun job.
Pengendalian pada biaya merupakan patokan atau standar sebagai dasar uang dipakai untuk tolak ukur pengendalian. Sedangkan Biaya sesungguhnya merupakan biaya yang diakumulasi selama proses produksi dengan menggunakan harga pokok historis yang biasanya merupakan lawan dari biaya yang ditetapkan sebelum proses produksi yang ditujukan untuk mengetahui besarnya biaya yang dikeluarkan perusahaan.
DAFTAR PUSTAKA
1. Mulyadi, 1993, Akuntansi Biaya, Edisi ketiga, Yogyakarta: BPFE Universitas Gunadarma.
2. Firdaus A. Dunia, 1994, Akuntansi Biaya, Buku Satu Lembaga Penerbit Fakultas Ekonom Universitas Indonesia, Jakarta.
3. Schweitzer dan Hans-Ulrich Kueper, Akuntansi Biaya, Alih Bahasa oleh Burhan Napitupulu dan Teddy Pawitro, Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta, 1991.
4. Tresno Lesmono, 1998, Akuntansi Biaya, Yogyakarta: Akademia Akuntansi YKPN
5. Ibnu Subiyanto dan Bambang Suripto, 1993, Akuntansi Biaya, Seri Diktat Kuliah, Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma, Jakarta.
Makalah Akuntansi Biaya
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang Masalah
Pencatatan
perhitungan kekayaan mulai dibutuhkan sejak manusia mengenali arti
nilai suatu barang dan alat tukar, semenjak mengenal nilai arti suatu
barang, manusia melakukan tukar-menukar barang dengan memperhatikan
nilai barang dan memerlukan pencatatan perhitungan harta kekayaan
(Akuntansi), pencatatan terus berkembang dari waktu ke waktu sampai
dengan kemajuan peradaban manusia.
Pencatatan
yang lebih lengkap sejalan dengan perkembangan dunia usaha muncul
dikota Venesia, Italia. Seorang biarawan pakar Matematika yang bernama
Lucas Paciolo pada tahun 1494.
Sisitem akuntansi yang
dikemukakan Lucas Paciolo yang berkembang dan mendasari sistem akuntansi
yang adipakai dalam dunia usaha sekarang ini.
Akuntansi
Biaya Adalah proses pencatatan, penggolongan, peringkasan dan penyajian
biaya pembuatan dan penjualan produk atau jasa, dengan cara-cara
tertentu serta penafsiran terhadapnya.
BiayaDalam
arti luas adalah pengorbanan sumber ekonomis, yang diukur dalam satuan
uang, yang telah terjadi atau kemungkinan akan terjadi untuk mencapai
tujuan tertentu.
Dalam arti sempit biaya merupakan bagian daripada harga pokok yang dikorbankan di dalam usaha untuk memperoleh penghasilan.
B.Rumusan Masalah
Berdasarkan
hal-hal uraian tersebut diatas dan untuk mengarahkan pembahasan maka
rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1.Pengertian akuntansi
2.Pengertian akuntansi biaya
3.Pengertian akuntansi biaya dalam Arti Luas dan Sempit
C. Pembatasan Masalah
Dalam hal pembahasan yang di lakukan memiliki cakupan yang di batasi, maka penyusun membatasi masalah sebagai berikut
1.Pengertian akuntansi
2.Pengertian Akuntansi biaya
D. Maksud dan Tujuan
Maksud
dan tujuan yang hendak dicapai dalam pembahasan makalh ini adalah untuk
memperoleh gambaran mengenai pokok bahasan. Adapun maksud dan tujuan
pembuatan makalh ini adalah:
1.Untuk mengetahui pengertian akuntansi secara umum
2.Untuk mengetahui pengertian akuntansi biaya secara umum dan lebih Luas
3.Untuk mengetahui manfaat dari akuntansi Biaya Dan agar mengetahui mengenai Akuntansi biaya lebih Mendalam
BAB II
PEMBAHASAN
A.Pengertian Akuntansi
Akuntansi
sering disebut bahasa dunia usaha (Bussines language) karena di
akuntansi merupakan alat komunikasi perusahaan dalam menginformasikan
peristiwa ekonomi kepada yang memerkukan. Dengan melalui laporan
akuntansi perusahaan dapat menyampaikan pesan kepada pihak-pihak yang
ingin mengetahui posisi keuangan, dan tingkat perspektif perusahaan yang
berguna untuk membantu pengan bilan keputusan.
American
Institut Of Certified Public Accountan (AICPA) mengemukakan bahwa
akuntansi adalah seni pencatatan, pengelompokan dan pengiktisaran
menurut cara yang berarti dan di nyatakan dalam nilai uang. Segala
transaksi dan kejadian yang sedikitnya bersifat keuangan, kemudian
ditafsirkan hasilnya. Seni di tafsirkan dari segi fisik dan
kebijaksanaan.
American Accouting
Association (AAA) juga merumuskan bahwa akuntansi adalah proses
mengidentifikasikan, mengukur dan melaporkan informasi ekonomi dalam
sebuah perusahaan sehingga di mungkinkan adanya penilaian dan
pengambilan keputusan bagi mereka yang menggunakan informasi.
B.Fungsi dan Pengertian Akuntansi Biaya
Pengertian
Akuntansi Biaya Adalah proses pencatatan, penggolongan, peringkasan dan
penyajian biaya pembuatan dan penjualan produk atau jasa, dengan
cara-cara tertentu serta penafsiran terhadapnya.
BiayaDalam
arti luas adalah pengorbanan sumber ekonomis, yang diukur dalam satuan
uang, yang telah terjadi atau kemungkinan akan terjadi untuk mencapai
tujuan tertentu.
Dalam arti sempit biaya merupakan bagian daripada harga pokok yang dikorbankan di dalam usaha untuk memperoleh penghasilan.
Pengertian
Lain Akuntansi biaya adalah salah satu cabang akuntansi yang merupakan
alat manajemen dalam memonitor dan merekam transaksi biaya secara
sistematis, serta menyajikannya informasi biaya dalam bentuk laporan
biaya. Biaya (cost) berbeda biaya (cost) adalah pengorbanan ekonomis
yang dikeluarkan
untuk memperoleh
barang dan jasa, sedangkan beban (expense) adalah expired cost yaitu
pengorbanan yang diperlukan atau dikeluarkan untuk merealisasi hasil,
beban ini dikaitkan dengan revenue pada periode yang berjalan.
Pengorbanan yang tidak ada hubungannya dengan perolehan aktiva, barang
atau jasa dan juga tidak ada hubungannya dengan realisasi hasil
penjualan, maka tidak digolongkan sebagai cost ataupun expense tetapi
digolongkan sebagai loss.
Fungsi Akuntansi Biaya yakni:
a.
Untuk mengukur pengorbanan nilai masukan tersebut guna menghasilkan
informasi bagi pihak manajemen, apakah mendapat profit atau tidak
b.
Menghasilkan informasi bagi manajemen sebagai dasar untuk merencanakan
alokasi sumber daya ekonomi yang dikorbankan untuk menghasilkan
keluaran.
Manajemen biaya :
1. Membutuhkan pengertian yang lebih mendalam tentang struktur biaya suatu perusahaan
2. Manage r harus mampu menentukan kegiata dan proses jangka pendek dan jangka panjang
Informasi Manajemen Biaya
Informasi yang dibutuhkan untuk mengolah secara efektif perusahaan atau organisasi non laba
Informasinya mengenai:
1. Informasi keuangan = biaya dan pendapatan
3. Informasi non keuangan yang relevan (produktivitas,kualitas dan faktor-faktor kunci lainnya)
Penggunaan pihak internal untuk membantu manajemen
Proses
pencatatan,penggolongan, peringkasan dan penyajian,serta penafsiran
informasi biaya adalah tergantung untuk siapa proses tersebut
ditujukaan. Proses akuntansi biaya dapat ditujukan untuk memenuhi
kebutuhan pemakai luar perusahaan, dalam hal ini proses akuntansi biaya
dapat merupakan bagian dari akuntansi keuangan
PERBEDAAN AKUNTANSI KEUANGAN DAN
AKUNTANSI MANAJEMEN
Persamaan :
1. Kedua tipe akuntansi tersebut merupakan sistem pengolah informasi yang menghasilkan informasi keuangan.
2. Sebagai penyedia informasi keuangan yang bermanfaat bagi seseorang untuk pengambilan keputusan
Perbedaan.:
Perbedaan pokok antara akuntansi keuangan dan akuntansi manajemen terletak pada :
a).pemakai laporan akutansi dan tujuan mereka
b).lingkup informasi
c).fokus informasi
d).rentang waktu
e).kriteria bagi informasi akuntansi
f).disiplin sumber
g).isi laporan
h).sifat informasi
Gambar berikut ini merupakan penjelasan mengenai perbedaan antara kedua tipe tersebut :
Perbedaan Pokok Akuntansi Keuangan dan
Akuntansi Manajemen
No. Keterangan Akuntansi Keuangan Akuntansi Manajemen
1. Pemakai Utama Para manajer puncak dan pi- Para manajer dari berbagai
hak luar perusahaan. jenjang organisasi
2. Lingkup Perusahaan secara keselu- Bagian dari perusahaan
Informasi ruhan
3. Fokus Berorientasi pada masa Berorientasi pada masa
Informasi Yang lalu yang akan datang.
4. Rentang waktu Kurang fleksibel. Biasanya Fleksibel : bisa harian, minggu
Mencakup jangka waktu ku- an, bulanan, bahkan bisa 10
Artalan, tengah tahun, th-an tahunan.
5. Kriteria bagi Dibatasi oleh prinsip akunt- Tidak ada batasan, kecuali
Informasi Akun- Ansi yang lazim manfaat yang dapat dipero-
Tansi. leh oleh manaj dari informasi
dibandingkan dg pengorban
an untuk memperoleh informa
si tersebut.
6. Disiplin Sumber Ilmu Ekonomi Ilmu Ekonomi dan Psikologi
Sosial
7. Isi Laporan Laporan berupa ringkasan Laporan bersifat rinci menge-
Mengenai perusahaan seba- nai bagian dari perusahaan.
Gai keseluruhan.
8. Sifat Informasi Ketepatan informasi merupa- Unsur taksiran dalam infor-
Kan hal yg penting Masi adalah besar.
Proses akuntansi biaya dapat di
tunjukan pula untuk memenuhi kebutuhan pemakai dalam perusahaan. Dengan
demikian akuntansi biaya harus memperhatikan karakteristik Akuntansi
manajemen .
Akuntansi biaya
mempunyai tiga tujuan pokok yakni : penentuan harga pokok produk,
pengendalian biaya, dan penganbilan keputusan khusus. Untuk memenuhi
tujuan penentuan harga pokok produk, akuntansi biaya mencatat
penggolongan dan meringkas biaya-biaya pembuatan produk atau penyerahan
jasa. Biaya yang dikumpulkan dan disajikan adalah biaya untuk menentukan
harga pokok produk ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pihak luar
perusahaan.
Oleh karena itu,
untuk melayani kebutuhan pihak luar tersebut, akuntansi biaya untuk
penentuan harga produk tunduk pada prinsip-prinsip akuntansiyang lazim.
Di samping itu, penentuan harga pokok produk untuk memenuhi kebutuhan
tersebut dilayani oleh akuntansi manajemen yang tidak selalu terikat
dengan prinsip akuntansi yang lazim. Misalnya, metode variable costing
untuk penentuan harga pokok produk dan penyajian informasi biaya untuk
memenuhi kebutuhan manajemen dalam perencanaan dan penganbilan keputusan
jangka pendek.
Pengendalian
biaya harus didahului dengan penentuan biaya yang seharusnya dikeluarkan
untuk memeproduksi satu-satunya produk. Jika biaya yang seharusnya ini
telah ditetapkan, akuntansi biaya bertugas untuk memantau apakah
pengeluaran biaya yang sesungguhnya sesuai dengan biaya yang seharusnya
tersebut. Akuntansi biaya kemudian melakukan analisis terhadap
penyimpana biaya sesungguhnya dengan biaya yang seharusnya dan
menyajiakan informasi mengenai penyebab terjadinya selisih tersebut.
Dari
analisis penyimpangan dan penyebabnya tersebut manajemen akan dapat
mempertimbangkan tindakan koreksi, jika hal ini perlu dilakukan. Dari
analisis ini juga manajemen puncak akan dapat mengadakan penilaian
prestasi para manager dibawahnya. Akunta si biaya untuk
tujuanpengendalian biaya ini lebih ditujukan untuk memenuhi kebutuhan
pihak dalam perusahaan. Aspek prilaku manusia dalam akuntansi biaya
untuk tujuan pengendalian biaya adalah besar. Dengan demikian akuntansi
biaya untuk tujuan pengendalian biaya merupakan bagian dari akuntansi
manajemen. Lihat sistem biaya standar, baik dengan metode full costing
(Bab 13 sistem biaya standar – metode variable costing) pengambilan
keputusan khusus menyangkut masa yang akan datang. Oleh karena itu
informasi yang relevan dengan pengambilan keputusan khusus menyajikan
biaya masa yang akan datang (future costs). Informasi biaya ini tidak
dicatat dalam catatan akuntansi biaya, melainkan hasil dari suatu proses
peramalan. Karena keputusan khusus merupakan sebagian besar kegiatan
manajemen perusahaan, Laporan akuntansi biaya untuk memenuhi tujuan
penganbilan keputusan adalah bagian dari akuntansi manajemen.
Untuk
memenuhi bagian dari kebutuhan manajemen dalam pengambilan keputusan,
akuntansi biaya mengembangkan berbagai konsep informasi biaya untuk
pengambilan keputusan, seperti, biaya kesempatan (Ooportunity cost),
biaya Hipotetis (hypothical cost), biaya tambahan (Incremental cost),
biaya terhindarkan (avoidable cost), dan pendapatan yang hilang (Forgone
revenue).
C. Manfaat Akuntansi Biaya
Tujuan atau manfaat akuntansi biaya adalah menyediakan salah satu
informasi yang diperlukan oleh manajemen dalam mengelola perusahaan, yaitu
untuk:
1. Perencanaan dan Pengendalian Laba. Akuntansi biaya menyediakan informasi
atau data biaya masa lalu yang diperlukan untuk menyusun perencanaan, dan
selanjutnya atas dasar perencanaan tersebut, biaya dapat dikendalikan dan
akhirnya pengendalian dapat dipakai sebagai umpan balik untuk perbaikan
dimasa yang akan datang.
2. Penentuan Harga Pokok Produk atau Jasa. Penetapan harga pokok akan dapat
membantu
dalam : (a) penilaian persediaan baik persediaan barang jadi maupun
barang dalam proses, (b) penetapan harga jual terutama harga jual yang
didasarkan kontrak, walaupun tidak selamanya penentuan harga jual
berdasarkan harga pokok, (c) penetapan laba.
3. Pengambilan Keputusan oleh Manajemen.
4. Untuk menghasilkan manfaat dimasa depan
Tujuan Akuntansi Biaya
Yakni
untuk menyediakan informasi biaya bagi kepentingan manajemen guna
membantu mereka di dalam mengelola perusahaan atau bagiannya.
D. Klasifikasi Biaya
Akuntansi
biaya bertujuan untuk menyajikan informasi biaya yang digunakan untuk
berbagai tujuan, sehingga penggolongan biaya juga didasarkan atas
disesuaikan dengan tujuan tersebut.
Klasifikasi Biaya (Penggolongan Biaya)
Biaya dapat digolongkan menjadi beberapa golongan atas dasar, yakni sebagai berikut :
1.Obyek Pengeluaran
2.Fungsi-Fungsi Pokok Perusahaan.
3.Hubungan Biaya dengan Sesuatu yang Dibiayai.
4.Atas Dasar Tingkah Lakunya terhadap Perubahan Volume Kegiatan.
5.Jangka Waktu
Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk
menggolongkan biaya diantaranya :
1. Berdasarkan Fungsi Pokok Perusahaan
a. Factory Cost (Biaya Produksi)
1. Biaya Bahan Baku (Direct Material Cost)
2. Biaya Tenaga Kerja Langsung (Direct Labor Cost)
3. Biaya Tidak Langsung (Factory Overhead)
b. Commercial Expense (Operating Expense)
1. Marketing and Selling Expense
2. General & Administration Expense
2. Berdasarkan Periode Akuntansi
a. Capital Expenditure (Pengeluaran Modal). Pengeluaran ini akan memberi
manfaat pada beberapa periode akuntansi. Jenis pengeluaran ini
dikapitalisir dan dicantumkan sebagai harga perolehan. Suatu pengeluaran
dikelompokkan sebagai capital expenditure jika pengeluaran ini memberi
manfaat lebih dari satu periode akuntansi, jumlahnya relatif besar, dan
pengeluaran ini sifatnya tidak rutin.
b. Revenue Expenditure (Pengeluaran Penghasilan). Pengeluaran ini akan
memberi manfaat pada periode akuntansi dimana pengeluaran ini terjadi.
Pengeluaran ini menjadi beban pada periode tersebut, dan dicantumkan
dalam income statement. Suatu pengeluaran dikelompokkan sebagai revenue
expenditure jika pengeluaran tersebut memberi manfaat pada periode
terjadinya pengeluaran tersebut, jumlahnya relatif kecil, dan umumnya
pengeluaran ini sifatnya rutin.
3. Berdasarkan Pengaruh Manajemen Terhadap Biaya
a. Biaya Terkendali (Controllable Cost). Adalah biaya yang secara langsung
dapat dipengaruhi oleh seorang manajer tingkatan tertentu dalam jangka
waktu tertentu.
b. Biaya Tidak Terkendali (Uncontrollable Cost). Adalah biaya yang tidak dapat
dipengaruhi oleh seorang manajer atau pejabat tingkatan tertentu.
4. Karakteristik Biaya Dihubungkan Dengan Keluarannya
a. Biaya Engineered. Adalah elemen biaya yang mempunyai hubungan phisik yang eksplisit dengan output.
b.
Biaya Discretionary. Biaya ini disebut juga managed cost atau
programmed cost adalah semua biaya yang tidak mempunyai hubungan yang
akurat dengan output.
c. Biaya Commited atau biaya kapasitas. Adalah semua biaya yang terjadi
dalam rangka untuk mempertahankan kapasitas atau kemampuan organisasi dalam kegiatan produksi, pemasaran dan administrasi.
5. Pengaruh Perubahan Volume Kegiatan Terhadap Biaya
a. Biaya Tetap. Yaitu biaya yang jumlah tidak dipengaruhi oleh perubahan
volume kegiatan sampai pada tingkatan tertentu. Biaya tetap perunit berubah
berbanding terbalik dengan perubahan volume kegiatan.
b. Biaya Variabel. Biaya variabel mengasumsikan hubungan linear antara biaya
aktifitas tersebut. Biaya variabel yaitu biaya yang jumlah totalnya berubah
secara sebanding dengan perubahan volume kegiatan, semakin besar volume
kegiatan maka semakin besar pula jumlah total biaya variabel.
c. Biaya Semi Variabel. Yaitu biaya dimana jumlah totalnya berubah sesuai
dengan perubahan volume kegiatan, akan tetapi sifat perubahannya tidak
sebanding/proporsional.
6. Berdasarkan Objek yang dibiayainya
a. Biaya Langsung. Biaya yang terjadi atau manfaatnya dapat diidentifikasi
kepada objek atau pusat biaya tertentu.
b. Biaya Tidak Langsung. Biaya yang terjadi atau manfaatnya tidak dapat
diidentifikasi pada objek atau pusat biaya tertentu, atau biaya yang
manfaatnya dinikmati oleh beberapa objek atau pusat biaya.
E. Sistem Akuntansi Biaya
Sistem akuntansi biaya (cost system) dapat dikelompokkan menjadi dua
sistem yaitu :
1. Actual Cost System (Sistem Harga Pokok Sesungguhnya). Yaitu sistem
pembebanan harga pokok kepada produk atau pesanan yang dihasilkan sesuai
dengan harga pokok yang sesungguhnya dinikmati. Pada sistem ini, harga pokok
produksi baru dapat dihitung pada akhir periode setelah biaya sesungguhnya
dikumpulkan.
2.
Standard Cost System (Sistem Harga Pokok Standar). Yaitu sistem
pembebanan harga pokok kepada produk atau pesanan yang dihasilkan
sebesar harga pokok yang telah ditentukan/ditaksir sebelum suatu produk
atau pesanan dikerjakan.
ABC (Activity Based Cost) System
Diuji coba pada awal dekade 1990-an di USA
F. Sistem Pengumpulan Harga Pokok
1. Job Order Cost. Yaitu suatu metode pengumpulan harga pokok produk yang
dikumpulkan untuk setiap pesanan atau kontrak. Jadi setiap ada pesanan
mempunyai harga pokok tersendiri yang dibuat dalam job cost sheet. Pada
metode ini, produksi dilakukan untuk memenuhi pesanan pelanggan.
2. Process Cost. Yaitu metode pengumpulan harga pokok produk dimana biaya
dikumpulkan untuk setiap satuan waktu. Pada metode ini, proses produksi
diperusahaan dilaksanakan secara terus menerus, barang yang dihasilkan
homogen, dan perhitungan harga pokok produksi didasarkan atas waktu. Pada
metode ini, produksi dilakukan untuk memenuhi stock.
G. Manfaat Biaya Perunit.
1. Perusahaan Munafaktur
Sistem akuntansi biaya memiliki tujuan pengukuran dan pembebanan biaya
sehingga biaya perunit dari suatu produk dapat ditentukan. Informasi biaya perunit
adalah sangat penting bagi perusahaan manufaktur untuk penilaian persediaan,
penentuan laba, dan pengambilan keputusan lainnya. Pengungkapan biaya
persediaan dan penentuan laba adalah kebutuhan pelaporan keuangan yang dihadapi setiap perusahaan pada setiap akhir periode.
Untuk menentukan biaya perunit, maka total biaya yang digunakan
tergantung tujuan informasi tersebut. Perusahaan dapat menggunakan biaya
produksi, atau biaya variabel, atau biaya produksi ditambah biaya non produksi.
Untuk
pembuatan laporan keuangan untuk pihak eksternal, maka informasi biaya
perunit diperoleh dari total biaya produksi, sedangkan untuk pengambilan
keputusan untuk menerima atau menolak pesanan khusus, dalam kondisi
perusahaan beroperasi dibawah kapasitas produksi, maka informasi biaya
yang dibutuhkan adalah informasi biaya variabel.
Perusahaan
munafaktur, Pada umumnya Akuntansi biaya yang dibahas dalam mata kuliah
ini adalah yang diterapkan dalam perusahaan manufaktur. Alasannya lebih
kompleks apabila dibandingkan dg perusahaan lain. Kegiatan pokok
perusahaan manufaktur yakni mengolah bahan baku menjadi produk jadi yang
siap untuk dijual.
Fungsi pokok dalam perusahaan manufaktur
a. Fungsi produksi
b. Fungsi pemasaran
c. Fungsi administrasi dan umum.
Berdasarkan fungsi di atas, maka
dalam perusahaan manufaktur dapat dibagi menjadi : Biaya produksi,
biaya pemasaran dan biaya administrasi & umum.
Perusahaan Manufaktur Yakni
Perusahaan yang kegiatannya mengolah bahan baku menjadi produk jadi dan
melakukan penjualan produk tersebut kepada konsumen atau perusahaan
manufaktur lain.
Kegiatan pengolahan bahan baku, menjadi produk jadi memer- lukan 3 kelompok pengorbanan sumber ekonomi, yakni :
(1) Pengorbanan bahan baku
(2) Pengorbanan jasa tenaga kerja,dan
(3) Pengorbanan jasa fasilitas.
Dalam pemasaran produk jadi, juga memerlukan pengorbanan sumber ekonomi, yakni :
(1) Biaya produksi : terdiri biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik.
(2) Biaya pemasaran
(3) Biaya administrasi dan umum.
Perusahaan dagang Perusahaan
yang kegiatannya membeli barang dagangan dari perusahaan lain dan
melakukan penjualan barang tersebut kepada konsumen atau perusahaan
manufaktur.
Untuk mendapatkan barang
dagangan, perusahaan dagang mengeluarkan biaya, yang dalam laporan laba
rugi dikelompok kan menjadi 3 golongan yakni :
(1) Harga pokok penjualan
(2) Biaya pemasaran
Biaya administrasi dan umum
2. Perusahaan Jasa
Perusahaan jasa juga memerlukan informasi biaya perunit. Pada dasarnya
untuk menghitung biaya perunit antara perusahaan jasa maupun perusahaan
manufaktur adalah sama. Pertama sekali, perusahaan jasa yang disediakan dan
mengidentifikasi total biaya untuk unit jasa yang disediakan.
Perusahaan jasa maupun perusahaan manufaktur menggunakan data biaya
dengan tujuan yang sama, yaitu untuk menentukan profitabilitas, kelayakan untuk
memperkenalkan layanan baru, membuat keputusan harga jual dan lainnya, hanya
perusahaan jasa tidak memerlukan data biaya untuk menentukan nilai persediaan,
karena jasa tidak menghasilkan produk fisik.
H. Kalkulasi Biaya Produk Tradisional
Kalkulasi
biaya produk tradisional hanya membebankan biaya produksi pada produk.
Pembebanan biaya utama keproduk tidak memiliki kesulitan, karena dapat
menggunakan penelusuran langsung atau penelusuran penggerak yang sangat
akurat. Tetapi sebaliknya, biaya overhead memiliki masalah dalam
pembebanan biaya ke produk, karena hubungan antara masukan dan keluaran
tidak dapat diobservasi secara fisik.
Dalam sistem biaya tradisional, untuk membebankan biaya ke produk
digunakan
penggerak aktifitas tingkat unit (unit level drivers), karena ini
merupakan faktor yang menyebabkan perubahan biaya sebagai akibat
perubahan unit yang diproduksi. Contoh penggerak tingkat unit yang
secara umum digunakan untuk membebankan overhead meliputi :
1. Unit yang diproduksi
2. Jam tenaga kerja langsung
3. Tenaga kerja langsung (rupiah)
4. Jam mesin
5. Bahan langsung
Setelah mengidentifikasi penggerak (driver) tingkat unit, lalu memprediksi
tingkat keluaran aktifitas yang diukur oleh penggerak tersebut, yaitu apakah
berdasarkan aktifitas aktual yang diharapkan (expected activity level) dan aktifitas
normal
(normal activity level). Expected activity level adalah output
aktivitas yang diharapkan dicapai oleh perusahaan pada tahun yang akan
datang, sedangkan
normal activity
level adalah output aktivitas rata-rata yang merupakan pengalaman
perusahaan dalam jangka panjang. Aktivitas normal mempunyai keunggulan
berupa penggunaan tingkat aktifitas yang sama dari tahun ketahun,
sehingga pembebanan overhead ke produk tidak begitu berfluktuasi.
I. Keterbatasan Sistem Akuntansi Biaya
Tarif pabrik menyeluruh dan tarif departemental telah digunakan beberapa
dekade dan terus digunakan secara sukses. Namun pada beberapa situasi tarif
tersebut menimbulkan distorsi yang dapat membuat stress perusahaan yang
berproduksi dalam lingkungan produksi canggih (advanced manufacturing
environment). Gejala-gejala dari sistem biaya yang ketinggalan jaman diantaranya
sebagai berikut :
1. Hasil dari penawaran sulit dijelaskan
2. Harga pesaing nampak lebih rendah sehingga kelihatan tidak masuk akal.
3. Produk-produk yang sulit diproduksi menunjukkan laba yang tinggi.
4. Manajer operasional ingin menghentikan produk-produk yang kelihatan
menguntungkan.
5. Marjin laba sulit dijelaskan
6. Pelanggan tidak mengeluh atas biaya naiknya harga
7. Departemen akuntansi menghabiskan banyak waktu untuk memberi data
biaya bagi proyek khusus.
8. Biaya produk berubah karena perubahan peraturan pelaporan
PENUTUP
KESIMPULAN
1. Pengertian dan Tujuan Akuntansi Biaya
Pengertian
Akuntansi Biaya Adalah proses pencatatan, penggolongan, peringkasan dan
penyajian biaya pembuatan dan penjualan produk atau jasa, dengan
cara-cara tertentu serta penafsiran terhadapnya.
BiayaDalam
arti luas adalah pengorbanan sumber ekonomis, yang diukur dalam satuan
uang, yang telah terjadi atau kemungkinan akan terjadi untuk mencapai
tujuan tertentu. Dalam arti sempit biaya merupakan bagian daripada harga
pokok yang dikorbankan di dalam usaha untuk memperoleh penghasilan.
Tujuan
Akuntansi Biaya Yakni untuk menyediakan informasi biaya bagi
kepentingan manajemen guna membantu mereka di dalam mengelola perusahaan
atau bagiannya.
Perusahaan
munafaktur, Pada umumnya Akuntansi biaya yang dibahas dalam mata kuliah
ini adalah yang diterapkan dalam perusahaan manufaktur. Alasannya lebih
kompleks apabila dibandingkan dg perusahaan lain. Kegiatan pokok
perusahaan manufaktur yakni mengolah bahan baku menjadi produk jadi yang
siap untuk dijual.
Fungsi pokok dalam perusahaan manufaktur
a. Fungsi produksi
b. Fungsi pemasaran
c. Fungsi administrasi dan umum.
Berdasarka¬n
fungsi di atas, maka dalam perusahaan manufaktur dapat dibagi menjadi :
Biaya produksi, biaya pemasaran dan biaya administrasi & umum.
2. Klasifikasi Biaya (Penggolongan Biaya)
Biaya dapat digolongkan menjadi beberapa golongan atas dasar, yakni sebagai berikut :
1.Obyek Pengeluaran
2.Fungsi-Fungsi Pokok Perusahaan.
3.Hubungan Biaya dengan Sesuatu yang Dibiayai.
4.Atas Dasar Tingkah Lakunya terhadap Perubahan Volume Kegiatan.
5.Jangka Waktu
3. Metode Pengumpulan Biaya Produksi.
Pengumpulan
harga pokok produksi dapat ditentukan oleh cara produksi, yakni : a)
Produksi atas dasar pesanan dan b) Produksi massa. Perusahaan yang
berproduksi berdasar pesanan menggunakan metode harga pokok pesanan (job
order cost method) . Sedangkan perusahaan yang berproduksi massa,
mengumpulkan harga pokok produksi dengan menggunakan metode harga pokok
proses (proses cost method).
4. Metode Penentuan Harga Pokok Produksi
Yakni
merupakan cara memperhitungkan unsure-unsur biaya ke dalam harga pokok
produksi. Ada dua pendekatan, : (1) Full Costing dan (2) Variable
Costing. Full Costing merupakan metode penentuan harga pokok produksi
yang memperhitungkan semua unsure biaya produksi ked ala harga pokok
produksi baik yang bersifat variabel maupun tetap.
Variable
Costing yakni Metode penentuan harga pokok produksi yang hanya
memperhitungkan biaya produksi yang berperilaku variabel ke dalam harga
pokok produksi.
5. Perbandingan Laporan Laba Rugi Perusahaan Manufaktur dengan Laporan Laba Rugi Perusaha- an Dagang.
Perusahaan dagang Perusahaan
yang kegiatannya membeli barang dagangan dari perusahaan lain dan
melakukan penjualan barang tersebut kepada konsumen atau perusahaan
manufaktur.
Untuk mendapatkan
barang dagangan, perusahaan dagang mengeluarkan biaya, yang dalam
laporan laba rugi dikelompok kan menjadi 3 golongan yakni :
(3) Harga pokok penjualan
(4) Biaya pemasaran
(5) Biaya administrasi dan umum
Perusahaan Manufaktur Yakni
Perusahaan yang kegiatannya mengolah bahan baku menjadi produk jadi dan
melakukan penjualan produk tersebut kepada konsumen atau perusahaan
manufaktur lain.
Kegiatan pengolahan bahan baku, menjadi produk jadi memer- lukan 3 kelompok pengorbanan sumber ekonomi, yakni :
(4) Pengorbanan bahan baku
(5) Pengorbanan jasa tenaga kerja,dan
(6) Pengorbanan jasa fasilitas.
Dalam pemasaran produk jadi, juga memerlukan pengorbanan sumber ekonomi, yakni :
(4) Biaya produksi : terdiri biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik.
(5) Biaya pemasaran
(6) Biaya administrasi dan umum.
DAFTAR PUSTAKA
1. Mulyadi, 2002. Akuntansi Biaya, Yogyakarta: Aditya Media
2. Mulyadi, Akuntansi Biaya, Yogyakarta : BPFE Yogyakarta 2008
3. Erlina, SE : fungsi dan pengertian akutansi biaya
Fakultas Ekonomi universitas sumatra utara.
4. Soemarso S.R Akuntansi suatu pengantar I dan II Edisi kedua, Jakarta: Lenbaga penerbit FEUI
Artikel Akuntansi Keuangan
Akuntansi
adalah pengukuran, penjabaran, atau pemberian kepastian mengenai
informasi yang akan membantu manajer, investor, otoritas pajak dan
pembuat keputusan lain untuk membuat alokasi sumber daya keputusan di
dalam perusahaan, organisasi, dan lembaga pemerintah. Akuntansi adalah
seni dalam mengukur, berkomunikasi dan menginterpretasikan aktivitas
keuangan. Secara luas, akuntansi juga dikenal sebagai "bahasa bisnis".
Akuntansi bertujuan untuk menyiapkan suatu laporan keuangan yang akurat
agar dapat dimanfaatkan oleh para manajer, pengambil kebijakan, dan
pihak berkepentingan lainnya, seperti pemegang saham, kreditur, atau
pemilik. Pencatatan harian yang terlibat dalam proses ini dikenal dengan
istilah pembukuan. Akuntansi keuangan adalah suatu cabang dari
akuntansi dimana informasi keuangan pada suatu bisnis dicatat,
diklasifikasi, diringkas, diinterpretasikan, dan dikomunikasikan.
Auditing, satu disiplin ilmu yang terkait tapi tetap terpisah dari
akuntansi, adalah suatu proses dimana pemeriksa independen memeriksa
laporan keuangan suatu organisasi untuk memberikan suatu pendapat atau
opini - yang masuk akal tapi tidak dijamin sepenuhnya - mengenai
kewajaran dan kesesuaiannya dengan prinsip akuntansi yang berterima
umum. Praktisi akuntansi dikenal sebagai akuntan. Akuntan bersertifikat
resmi memiliki gelar tertentu yang berbeda di tiap negara. Contohnya
adalah Chartered Accountant (FCA, CA or ACA), Chartered Certified
Accountant (ACCA atau FCCA), Management Accountant (ACMA, FCMA atau
AICWA), Certified Public Accountant (CPA), dan Certified General
Accountant (CGA). Di Indonesia, akuntan publik yang bersertifikat
disebut CPA Indonesia (sebelumnya: BAP atau Bersertifikat Akuntan
Publik).
Akuntansi Modern
Jantung
akuntansi keuangan modern ada pada sistem pembukuan berpasangan. Sistem
ini melibatkan pembuatan paling tidak dua masukan untuk setiap
transaksi: satu debit pada suatu rekening, dan satu kredit terkait pada
rekening lain. Jumlah keseluruhan debit harus selalu sama dengan jumlah
keseluruhan kredit. Cara ini akan memudahkan pemeriksaan jika terjadi
kesalahan. Cara ini diketahui pertama kali digunakan pada abad
pertengahan di Eropa, walaupun ada pula yang berpendapat bahwa cara ini
sudah digunakan sejak zaman Yunani kuno.
Kritik mengatakan bahwa standar praktik akuntansi tidak banyak berubah dari dulu. Reformasi akuntansi dalam berbagai bentuk selalu terjadi pada tiap generasi untuk mempertahankan relevansi pembukuan dengan aset kapital atau kapasitas produksi. Walaupun demikian, hal ini tidak mengubah prinsip-prinsip dasar akuntansi, yang memang diharapkan tidak bergantung pada pengaruh ekonomi seperti itu. Akuntansi sebagai suatu seni yang mendasarkan pada logika matematik - sekarang dikenal sebagai “pembukuan berpasangan” (double-entry bookkeeping) - sudah dipahami di Italia sejak tahun 1495 pada saat Luca Pacioli (1445 - 1517), yang juga dikenal sebagai Friar (Romo) Luca dal Borgo, mempublikasikan bukunya tentang “pembukuan” di Venice. Buku berbahasa Inggris pertama diketahui dipublikasikan di London oleh John Gouge atau Gough pada tahun 1543. Sebuah buku ringkas menampilkan instruksi akuntansi juga diterbitkan di tahun 1588 oleh John Mellis dari Southwark, John Mellis merujuk pada fakta bahwa prinsip akuntansi yang dia jelaskan (yang merupakan sistem sederhana dari masukan ganda/double entry) adalah "after the forme of Venice".
Kritik mengatakan bahwa standar praktik akuntansi tidak banyak berubah dari dulu. Reformasi akuntansi dalam berbagai bentuk selalu terjadi pada tiap generasi untuk mempertahankan relevansi pembukuan dengan aset kapital atau kapasitas produksi. Walaupun demikian, hal ini tidak mengubah prinsip-prinsip dasar akuntansi, yang memang diharapkan tidak bergantung pada pengaruh ekonomi seperti itu. Akuntansi sebagai suatu seni yang mendasarkan pada logika matematik - sekarang dikenal sebagai “pembukuan berpasangan” (double-entry bookkeeping) - sudah dipahami di Italia sejak tahun 1495 pada saat Luca Pacioli (1445 - 1517), yang juga dikenal sebagai Friar (Romo) Luca dal Borgo, mempublikasikan bukunya tentang “pembukuan” di Venice. Buku berbahasa Inggris pertama diketahui dipublikasikan di London oleh John Gouge atau Gough pada tahun 1543. Sebuah buku ringkas menampilkan instruksi akuntansi juga diterbitkan di tahun 1588 oleh John Mellis dari Southwark, John Mellis merujuk pada fakta bahwa prinsip akuntansi yang dia jelaskan (yang merupakan sistem sederhana dari masukan ganda/double entry) adalah "after the forme of Venice".
Pada
awal abad ke 18, jasa dari akuntan yang berpusat di London telah
digunakan selama suatu penyelidikan seorang direkturSouth Sea Company ,
yang tengah memperdagangkan bursa perusahaan tersebut. Selama
penyelidikan ini, akuntan menguji sedikitnya dua buku perusahaan.
Laporannya diuraikan dalam buku Sawbridge and Company, oleh Charles
Snell, Writing Master and Accountant in Foster Lane, London. Amerika
Serikat berhutang konsep tujuan Akuntan Publik terdaftar pada Inggris
yang telah memiiki Chartered Accountant di abad ke 19.
Laporan Akuntansi
Akuntansi
disebut sebagai bahasa bisnis karena merupakan suatu alat untuk
menyampaikan informasi keuangan kepada pihak-pihak yang memerlukannya.
Untuk menyampaikan informasi-informasi tersebut, maka digunakanlah
laporan akuntansi atau yang dikenal sebagai laporan keuangan. Laporan
keuangan suatu perusahaan biasanya terdiri atas empat jenis laporan,
yaitu neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan modal, dan laporan
arus kas.
Neraca,
adalah daftar yang sistematis dari aktiva, utang dan modal pada tanggal
tertentu, yang biasanya dibuat pada akhir tahun. Disebut sebagai daftar
yang sistematis, karena neraca disusun berdasarkan urutan tertentu.
Dalam neraca dapat diketahui berapa jumlah kekayaan perusahaan,
kemampuan perusahaan membayar kewajiban serta kemampuan perusahaan
memperoleh tambahan pinjaman dari pihak luar. Selain itu juga dapat
diperoleh informasi tentang jumlah utang perusahaan kepada kreditur dan
jumlah investasi pemilik yang ada didalam perusahaan tersebut.
Laporan
laba rugi, adalah ikhtisar mengenai pendapatan dan beban suatu
perusahaan untuk periode tertentu, sehingga dapat diketahu laba yang
diperoleh dan rugi yang dialami.Laporan perubahan modal, adalah laporan yang menunjukkan perubahan modal untuk periode tertentu, mungkin satu bulan atau satu tahun. Melalui laporan perubahan modal dapat diketahui sebab-sebab perubahan modal selama periode tertentu. Laporan arus kas, dengan adanya laporan ini pemakai laporan keuangan dapat mengevaluasi perubahan aktiva bersih perusahaan, struktur keuangan (termasuk likuiditas dan solvabilitas) dan kemampuan perusahaan didalam menghasilkan kas dimasa mendatang.
Langganan:
Postingan (Atom)